Bagian dari Kebaikan

وَقُلِ ٱعۡمَلُوا۟ فَسَیَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلۡغَیۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَیُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
(QS. At-Taubah: 105)

Teknologi masa kini memberikan kesempatan kepada setiap pengusung nilai untuk menyebarluaskan keyakinannya.

Sehingga pada suatu titik, manusia mengalami ‘puncak’ kejenuhan karena over-informasi. Lelah dengan jargon, iklan dan tayangan yang begitu masif meminta perhatian para pemirsanya. Setiap hal itu, seperti ingin yang terdepan, pertama dan utama untuknya.

Hingga sang manusia kehilangan ‘arah’, mana yang sebenarnya hakikat untuk kebaikan dirinya…

Maka, izinkan… Para pejuang itu berhenti sejenak. Menjejakkan kakinya kembali ke bumi. Menelusuri kebutuhan batin -ruh- selain kebutuhan pemenuhan akal-pikirnya dan juga jasmaninya.

Oase di tengah upaya sepanjang hayat untuk menjadi bagian dari kebaikan.

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)